Sabtu, 05 November 2016

CERITA PENDEK

                                                             
                                                 " DIA"
                                                                                          karya : Orin Bungkuran


       Aku merebahkan tubuhku sesaat setelah aku sampai di kamarku. Menghembuskan nafas dan tersenyum memikirkan dia, Dia sungguh bauk, manis, perhatian, dan menyenangkan. Aku sangat bahagia memiliki orang seperti dia dalam hidupku dan tidak menyesal telah melupakan Bryan, walaupun aku sudah menunggunya selama 3 tahun. Menurutku dia sangat sempurna. Dia selalu memiliki cara untuk membuatku merasa spesial mulai dari hal kecil seperti memberikan coklat yang adalah makanan favoritelu sampai mengajakku jalan-jalan ke Bali bersama keluarganya. Aku selalu senang saat mengingat bagaimana hubungan kami dimulai.
   Awalnya kami hanya sebatas teman satu kelas di tahun kedua kami di SMA yang saling mengatahui nama namun tidak pernah berinteraksi lebih dari saling menyapa. Dia adalah sosok yang sangat terkenal di sekolah sama sepertiku. Jika aku terkenal karena banyaknya piala dan sertifikat berjejer di lemari sekolah atas namaku maka dia beda lagi. Dia terkenal sebagai ketua osis yang tampan dan memiliki sikap yang ramah dan menyenangkan. Aku mengingatnya dengan jelas, kapan dia mulai mendekatiku. Saat itu kami berada dikelompok yang sama untuk mementaskan sebuah drama yang menjadi tugas Bahasa Indonesia. Kelompok  kami beranggotakan 5 orang dan kami berlima memutuskan akan menampilkan drama musikal dengan aku dan dia menjadi tokoh utamanya. Dia sering mendatangiku dan mengajakku mengobrol tentang drama kami awalnya, setelah itu dia mulai membicarakan apapun yang ingin diceritakannya. Jujur, saat dia mendatangiku aku merasa sangat terganggu karena hatiku terusik dengan kehadirannya. Hatiku yang terikat cinta sebelah pihak kepada Bryan mulai terusik dengan eksistensinya dalam hidupku. Aku meyakinkan diriku bahwa aku tidak mungin menyukainya dengan keberadaan Bryan dalam hatiku tapi, itu semua terjadi. Dia mulai mengalihkan perhatianku dari Bryan, dengan perlahan dia mengambil dan menempati  tempat yang dulunya di duduki Bryan setelah berhasil mengusirnya keluar dari hatiku. Dia berhasil membuatku move on dari cinta sebelah pihakku dan aku bersyukur untuk itu.
   Dua bulan setelah jadian, dia mengajakku ke Bali bersama kelurganya. Saat itu, aku bingung apakah aku harus mengikuti ajakannya atau tidak dan ya, aku tidak bisa menolak ajakannya. Awalnya aku ragu akan kehadiranku ditengah-tengah keluarganya namun ternyata, aku diterima dengan baik. Disana kami menghabiskan waktu dengan jalan-jalan, mengobrol, bercanda dan banyak hal yang kami lakukan bersama. Itu adalah pengalaman yang sangat berharga bagiku.
   Pernah aku bertanya, mengapa dia mencintaiku dan dia menjawabnya dengan santai " Love doesn't need a reason`." ucapnya. Sejak awal di saat kami menempati kelas yang sama, dia sudah berniat mendekatiku namun dia berhenti stelah mendengar tentang kisah cinta sebelah pihakku pada Bryan. Dia kembali memantapkan hatinya dengan menepis rasa malu dan menyiapkan diri untuk menerima penolakan dariku, ceritanya padaku saat kami menghabiskan sepanjang sore dengan duduk menikmati kopi bersama di cafe dekat sekolahku.
  Dia selalu menyempatkan diri untuk mengajakku keluar bersama karena katanya " Quality time dalam sebuah hubungan itu penting". Hubungan yang kami jalani tidak selalu lancar, ada banyak rintangan yang harus kami hadapi. Kesibukannya, orang tuaku yang protektif, kecemburuanku, kemarahannya dan masih banyak lagi. Saat menemui permasalahan, entah siapa yang memulai, kami selalu saling mengalahkan ego masing-masing dan berusaha untuk menyelesaikan permasalahan tersebut hari itu juga. Selama lima tahun ini, cinta kami semakin bertumbuh dan berkembang. Kebiasaan kami yang saling meluangkan waktu untuk kebersamaan semakin memperkuat hubungan kami. Kami melakukannya seminggu sekali setiap akhir pekan dan barusan, aku menghabiskan waktuku seharian bersamanya. Dia, dia dan dia Davani Steven Mahendra adalah alasan kebahagiaanku, Bianca Putri. Terima kasih Tuhan karena telah menganugerahkan dan menjadikan Dava bagian terindah dalam hidupku.

                                                              -THE END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar